Sebetulnya topik tentang keyakinan ini sudah mulai menghantui hidup gue dengan luarbiasa semenjak gue, Shandy dan Ayy heboh berbincang mesra semalem suntuk beberapa hari setelah PSAF, di kosan Ayy, dengan durasi dari jam 12 malem sampe jam 7 pagi. Bener-bener deh tuh, pembicaraan yang merusak akal sehat. Tapi jangan buru-buru menilai bahwa obrolan mesra dini hari itu sebagai hal nggak penting karena akhirnya gue kembali teringat dan tersadarkan bahwa memang dalam hidup keyakinan itu penting.
Gue sadar, kadang definisi “keyakinan” memang sering rancu dengan definisi “berharap” dan “percaya”. Gue sendiri bukan orang jenius yang hobi mengulik kamus buat akhirnya menemukan apa definisi ajegnya keyakinan, tapi berdasarkan kesotoyan gue sendiri gue pun membuat definisi keyakinan untuk hidup gue.
Buat gue, keyakinan, harapan dan percaya sebenernya sepaket, tapi datang secara bertahap. Semuanya berawal dari “berharap”, karena berharap itu menurut gue cenderung pasif, cenderung menunggu, kadang-kadang buta dan bisa aja datang tanpa landasan apapun. Tapi jadi manusia nggak mungkin dong kita stuck terus di tahapan awal ini, maka jadilah kita akan mulai mengobservasi. Setelah melihat kondisi sekitar, fakta-fakta dan semua informasi yang ada, barulah kita akan masuk kedalam tahap “percaya”. Percaya itu kadang masih pasif juga, kita percaya aja, tapi kita nggak usaha. Kalo udah sampe ke tahapan dimana kita udah menentukan tujuan, menentukan jalannya harus gimana kesana, dan mau usaha untuk kesana, maka itulah yang gue sebut dengan KEYAKINAN.
Gue yakin bahwa harapan gue bakalan bisa terkabul karena gue percaya bahwa segalanya memungkinkan gue kesana. Begitu.
Tapi balik lagi, itu semua definisi gue. kalau ada yang berdefinisi lain, ya silahkan saja.
Sejauh ini, memang pembicaraan tentang KEYAKINAN ini masih seringnya berputar di topik keyakinan akan masa depan dengan seseorang, tapi setelah gue bersemedi beberapa hari berpikir dan berpikir mau nulis apa tentang keyakinan disini, gue pun menyadari bahwa gue punya banyak keyakinan dalam hidup gue.
Misalnya, gue yakin kok gue bisa cumlaude (SOMBONGGG), gue yakin kok gue bisa berhenti merokok, gue yakin kok gue nggak sendirian di dunia ini, gue yakin kok gue bisa bikin suatu tulisan yang oke yang bakalan diterbitin dan bakalan dibaca banyak orang. YAKIN KOK (amiiinnn).
Emang sih, bicara soal yakin gue kadang merasa sotoy, sombong dan jadinya sesumbar tentang masa depan. Tapi lagi-lagi, memang itulah menurut gue efek samping dari keyakinan. Sekarang tinggal urusan pembuktian bahwa keyakinan gue nggak kosong. Disinilah gue diharuskan berusaha.
Gue yakin bisa cumlaude, itu karena gue merasa memang bisa aja kalo gue mau usaha. Sejauh ini sih IP gue masih mendukung, dan gue rasa kalau gue terus mau usaha dan tidak terjadi hal-hal yang luar biasa diluar kendali gue, keyakinan ini bisa gue buktiin. Bukan mau sombong, tapi emang gue pongah aja orangnya. Haheho. Gak deng.
Gue yakin bisa berhenti merokok, karena selama ini gue nggak berhenti bukan karena gue nggak bisa, tapi karena gue nggak mau. kalo gue mau berhenti beli rokok, berhenti cari kondisi dimana gue bisa merokok, berhenti minta rokok orang, bisa-bisa aja gue survive tanpa rokok.
Gue yakin gue nggak sendirian di dunia ini karena memang gue punya keluarga gue, adek-adek gue, temen-temen gue, yang kadang emang gak keliatan selalu ada tapi sebenernya ada. Tinggal gue mau nyari mereka nggak, mau reach out ke mereka nggak.
Yakin akan sesuatu yang cuma menyangkut diri kita itu gampang kok. karena yang perlu diatur cuma diri kita sendiri.
Yang susah emang kalau kita meyakini sesuatu yang ada hubungannya dengan orang lain. orang lain itu variabel yang sebenernya susah buat dihandle. Yah tau sendiri kan rasanya kayak apa. Makanya buat yang terakhir, buat keyakinan gue dengan PERBAMBANGAN hidup gue ini, sebenernya bukan sesuatu yang suka gue omongin secara luarbiasa serius. karena pada akhirnya, tergantung sama Bambangnya juga dong, dia yakin gak sama gue. selama ini sih, gue merasa keyakinan gue masih bisa gue pegang karena kondisinya masih mendukung untuk itu. kayak lagu Daniel Bedingfield:
If you’re not the one, then why does your name resounds in my head…
Bener kan? Kalo emang bukan dia, bukan si oknum yang masih memegang separuh hati gue itu, terus kenapa banget kehidupan gue masih aja berputar di dia dia dan DIAAAA melulu? Mau gue udah usaha lupain, mau gue udah nyanyi lagu-lagu penguat hati untuk bisa melepaskan, mau gue bilang “cintaaa iniiii membunuhkuuuu”, mentok-mentoknya gue tetep aja termehek-mehek kalo inget dia. tetep aja sejauh ini, dibanding semua orang yang pernah punya hubungan dengan gue, gue hanya bisa melihat dia bersama gue di masa depan gue. ih, tolol banget ya? Tapi yah itulah satu lagi efek samping dari keyakinan, bikin kita nggak peduli senorak apa kita sekarang, karena yakin kenorakan itu akan berbuah manis nantinya. Gue sih nggak berani sebenernya sesumbar bahwa gue bener-bener akan menghabiskan sisa hidup gue sama dia, orang kenyataannya sekarang gue dan dia sudah jauh toh? Tapi entah kenapa masih ada keyakinan dari diri gue bahwa nantinya, ini semua bisa aja terjadi. Bukan bisa aja sih, lebih cenderung, AKAN terjadi. Wets. Pede dasyat memang.
Gue pernah baca di buku The Alchemist-nya Paulo Coelho si tokoh utamanya bilang sesuatu seperti ini:
“I love you, because the whole world conspire to make me love you”
Gue nggak inget kata-kata pastinya, tapi pokoknya intinya begitu. Jadi buat gue, sekarang sah-sah aja sih bilang gue cinta sama dia, karena memang yang ada kondisinya membuat gue belum menemukan orang lain yang lebih baik dari dia. bukan berarti dia sempurna, tapi ketidaksempurnaannya dia belum sanggup membuat gue bilang: “PARAHHH ILFIL ABIS GUE SAMA LO!”
Yah, begitulah.
Akhir kata, gue sih menyadari sebenernya keyakinan-keyakinan gue ini bukanlah harga mati. Karena gimanapun gue nggak tahu Tuhan punya rencana apa buat gue kedepannya. Bisa aja gue mendadak kena musibah, terus gue nggak bisa cumlaude. Atau bisa aja Bambang ketemu cewek baru yang lebih oke daripada gue, terus keyakinan gue akan masa depan ini akan terhapus. Yah kalo itu mah berarti memang udah diluar kuasa gue aja. atau misalnya ada orang lain yang lebih oke dari Bambang yang bisa menggeser keyakinan gue. ya itu kan berarti memang jalannya nggak kesana aja. nggak apa-apa sih.
Yang penting, sekarang mah gue yakin. Gitu aja.
Seperti satu pegangan yang akhir-akhir ini sering gue ucapkan:
25 HARGA MATI!!!
Kalo nggak kejadian, yaaa… yaudah bangkit aja dari kematian itu dan bikin target baru. Misalnya: 27 tahun, yah masih bisa nego lah…
Jangan dibuat susah deh, intinya.
Satu lagi yang gue yakini: kita akan selalu berteman. Iya kaaannn…
Salam 25 tahun! Cupp!